Pelalawan Boat Race, Hadirkan Sensasi Balap Perahu 650 CC ala Thailand di Sungai Kampar

Pelalawan Boat Race, Hadirkan Sensasi Balap Perahu 650 CC ala Thailand di Sungai Kampar
Salah satu peserta Boat Race saat melaju di Sungai Kampar

GAGASANRIAU.COM, PELALAWAN - Kabupaten Pelalawan, Riau kini punya gawean baru untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Pasalnya sejak Jumat 10 hingga Minggu 12 Juli, suara raungan mesin ketinting memecah keheningan Desa Wisata Kuala Terusan (Kute), Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Di atas riak derasnya Sungai Kampar, puluhan juru mudi tampak berkonsentrasi penuh, menancap gas sedalam mungkin demi memacu perahu mereka menuju garis finis.

Pemandangan tidak biasa tersebut tersaji dalam pergelaran Boat Race yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan.

Gelaran tersebut dilangsungkan selama tiga hari, terhitung sejak 10 hingga 12 Juni kemarin, tepian Sungai Kampar dipadati oleh perahu-perahu modifikasi dengan kapasitas mesin mulai dari 110 cc, 200 cc, hingga kelas tertinggi 650 cc.

Keseruan adu cepat di atas air ini benar-benar memuncak saat kelas super engine 650 cc memulai start.

Peserta yang datang dari berbagai daerah saling beradu strategi dan ketangkasan mengendalikan kemudi di jalur lintasan.

Mengubah Tradisi Menjadi Potensi Wisata

Agenda yang awalnya hanya merupakan permainan rakyat atau tradisi di tingkat desa di Pelalawan ini kini mulai bersolek dan "naik kelas".

Haji Zukri Misran SE, MM, Bupati Kabupaten Pelalawan, menjadi sosok inisiator di balik transformasi tradisi hilir mudik kampung ini hingga jadi sebuah festival olahraga air resmi.

Melalui ajang ini, pemerintah daerah memberikan fasilitas resmi bagi para nelayan lokal untuk ikut ambil bagian.

Di sini, mereka tidak hanya diuji soal kecepatan, tetapi juga kemahiran menjaga keseimbangan perahu di tengah arus sungai yang dinamis.

"Keseruan Pelalawan Boat Race kemarin di Sungai Kampar benar-benar pecah. Balap perahu atau ketinting yang biasa digelar di desa atau kampung di Pelalawan sekarang akhirnya naik kelas," ujar Haji Zukri saat berbincang dengan GagasanRiau.Com, Senin (13/7/2026).

Bagi Haji Zukri, ajang pacuan ini memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar kompetisi olahraga.

Politisi PDI Perjuangan Riau ini melihat ada peluang besar untuk membangkitkan sektor pariwisata sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Animo masyarakat yang tinggi serta partisipasi pembalap yang masif membuat Pemkab Pelalawan berkomitmen untuk memasukkan Boat Race ini ke dalam agenda kalender wisata tahunan.

Sektor pariwisata, menurut Haji Zukri, merupakan salah satu instrumen penting dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) demi mewujudkan kemandirian daerah jangka panjang.

Menariknya, ada keunikan tersendiri yang membuat balapan di Pelalawan ini berbeda dari daerah lain di Indonesia.

"Ada yang beda dari dari balap ketinting di Pelalawan, yaitu kelas super engine 650 cc yang selama ini hanya ada di Thailand dan di Indonesia hanya di Pelalawan," tutur Haji Zukri.

Kompetisi tahun ini diikuti oleh 69 juru mudi yang menepis ego demi sportivitas di Kuala Terusan.

Atmosfer di sekitar sungai kian riuh saat influencer otomotif asal Kalimantan yang dikenal dengan nama 'Mama Racing' ikut menjajal lintasan, menarik pedal gas dalam-dalam di hadapan ribuan pasang mata pengunjung.

Melihat antusiasme tersebut, Zukri memastikan acara serupa akan kembali digelar dengan skala yang lebih matang pada tahun depan.

Promosi Pesona Tersembunyi Pantai Kute

Di sisi lain, perhelatan Pelalawan Boat Race menjadi panggung promosi yang efektif bagi Desa Wisata Kuala Terusan.

Desa yang terletak tidak jauh dari pusat Pangkalan Kerinci ini menawarkan paket lengkap wisata: alam yang asri, keramahan penduduk, serta adat istiadat yang masih terjaga erat.

Namun, daya tarik utama yang kerap diburu pelancong saat berkunjung ke desa ini adalah fenomena alam unik yang disebut Pantai Kute.

Berbeda dengan pantai pada umumnya yang berada di tepi laut, Pantai Kute di Pelalawan merupakan hamparan pasir putih yang hanya akan muncul ke permukaan secara alami ketika debit air Sungai Kampar sedang surut.

Saat momen langka tersebut terjadi, kawasan tepi sungai berubah menjadi arena rekreasi. Wisatawan bisa berenang, memancing, atau sekadar bersantai menikmati angin sore sembari mencicipi aneka hidangan kuliner lokal yang disajikan oleh para pelaku UMKM setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Pelalawan, Dodi Asmara Saputra, menjelaskan bahwa integrasi antara ajang olahraga dan pesona alam ini menjadi strategi utama dalam menggaet wisatawan.

"Jadi di samping balap ketinting, ini adalah ajang promosi Desa Kuala Terusan. Kalau kita lihat, di sana itu saat musim air surut muncul pantai dan dikenal Pantai Kute dan ada daya tarik wisata," kata Dodi.

Melalui perpaduan kearifan lokal, adrenalin balap ketinting, dan pesona Pantai Kute, Pelalawan perlahan namun pasti mulai mempertegas posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang patut diperhitungkan di Provinsi Riau.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index