Gambut Pelalawan Membara 5 Hari, Habitat Harimau Sumatera Kini Terkepung Api!

Ahad, 15 Maret 2026 | 04:21:11 WIB
Petugas dari Tim Manggala Agni Daops Rengat sedang berjibaku memadamkan api di lahan gambut Desa Pulau Muda, Kabupaten Pelalawan, Riau, Sabtu 14 Maret 2026. (Beritasatu.com/Effendi Rusli)

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU — Sebanyak belasan hektar hutan lahan gambut di Kabupaten Pelalawan, Riau, kini menjadi neraka bagi keanekaragaman hayati.

Pasalnya hingga hari kelima, pada Sabtu (14/3), api terus melalap Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, hingga meluas ke area sekitarnya.

Kondisi tersebut bukan sekadar bencana kabut asap biasa. Lokasi kebakaran yang membara merupakan kantong habitat penting bagi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Ancaman Nyata Satwa Lindung

Rio M Tambunan, Komandan Regu (Danru) Manggala Agni Daops Rengat,, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap satwa lindung yang kian terdesak.

Lantaran kobaran api yang tak kunjung padam membuat habitat predator puncak tersebut terus menyusut.

"Lokasi kebakaran merupakan kantong habitat Harimau Sumatera. Sampai saat ini kebakaran belum berhasil dikendalikan sepenuhnya," ujar Rio dalam keterangannya, Sabtu (14/3).

Kondisi lahan gambut yang kering dan hembusan angin kencang membuat api sulit dijinakkan.

Kini, kebakaran telah merembet hingga ke Desa Pangkalan Tarap serta Kelurahan Gambut Mutiara, menciptakan kepungan asap pekat di wilayah pesisir Pelalawan.

Tim Gabungan Berpacu dengan Waktu

Di lapangan, tim gabungan dari Manggala Agni Sumatera VII Rengat, BPBD, TNI-Polri, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) tengah berjuang memutus jalur api.

Medan gambut yang dalam menjadi tantangan maut karena api bisa terus menjalar di bawah permukaan tanah tanpa terlihat.

"Saat ini kami tengah melakukan pemadaman lanjutan di Pulau Muda, Kelurahan Gambut Mutiara, dan di Desa Pangkalan Tarap," tambah Rio.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Meluasnya karhutla hingga ke habitat satwa ini memicu pertanyaan besar terkait pengawasan di area konsesi maupun lahan masyarakat.

Hingga saat ini, fokus utama masih pada pemadaman, sementara investigasi mengenai penyebab pasti munculnya titik api di area sensitif tersebut masih dinantikan publik.

Jika api tidak segera dipadamkan, dikhawatirkan konflik antara manusia dan satwa akan meningkat karena harimau yang kehilangan tempat tinggal terpaksa keluar dari sarangnya mendekati pemukiman warga.

Terkini