GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU — Bumi Lancang Kuning kian membara di awal tahun 2026. Data terbaru yang dilansir oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mengungkap fakta mengerikan, sebanyak 1.375,49 hektare lahan telah hangus dilalap api yang tersebar di 11 kabupaten/kota.
Kondisi paling kritis ini terjadi di Kabupaten Pelalawan, di mana fenomena "bunga api terbang" membuat petugas tak berkutik.
Meskipun sebagian wilayah Riau mulai diguyur hujan, api justru melompat dari Desa Pulau Muda hingga mengepung Desa Pangkalan Tarap dan Kelurahan Gambut Mutiara.
'Api Terbang' Pecundangi Petugas
Zulfan, Kalaksa BPBD Pelalawan, mengakui bahwa teknik pemadaman darat yang dilakukan selama lima hari terakhir kewalahan menghadapi cuaca ekstrem.
Hujan yang turun ternyata tak cukup sakti memadamkan "api dalam sekam" di lahan gambut.
"Titik api belum berhasil dipadamkan. Bunga api yang beterbangan (fire spot) telah membakar lahan ke wilayah desa tetangga. Kami prediksi luasan akan terus bertambah," ujar Zulfan, Sabtu (14/3) dikutip dari riaupos.co.
Kabupaten Pelalawan kini menjadi penyumbang terbesar kerusakan lingkungan di Riau dengan total lahan terbakar mencapai 683,50 hektare, disusul Bengkalis yang mencatatkan angka 324 hektare.
Di Kampar Api di Bawah Tanah, Badai di Atas Kepala
Ironi bencana juga melanda Kabupaten Kampar. Di Desa Rimbo Panjang, api sudah "bersemedi" di bawah permukaan gambut selama enam hari berturut-turut.
Petugas di lapangan mengaku frustrasi karena sumber air di lokasi mulai mengering.
Belum usai urusan api, Kampar dihantam bencana hidrometeorologi lainnya. Di Bangkinang, badai dan hujan lebat menumbangkan pohon-pohon besar hingga melumpuhkan akses transportasi.
"Dua kejadian ini menunjukkan betapa fluktuatifnya cuaca kita. Di satu sisi kita kekurangan air buat padamkan gambut, di sisi lain angin kencang mengancam keselamatan," ungkap Adi Candra Lukita dari Pusdalops-PB Kampar.
Kegagalan Mitigasi Sejak Dini?
Meskipun status Siaga Darurat sudah ditetapkan sejak Februari lalu, membengkaknya angka lahan terbakar hingga ribuan hektare di 11 daerah memicu pertanyaan besar. Sejauh mana efektivitas pencegahan di lapangan?
Pekanbaru, Dumai, hingga Rokan Hilir kini mulai mencatatkan kenaikan titik panas.
Jika pola "pemadaman reaktif" terus berlanjut tanpa pengawasan ketat di area konsesi dan lahan masyarakat, Riau diprediksi akan kembali memasuki siklus kelam kabut asap lintas batas.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus berjibaku di tengah kepungan asap pekat, sementara drone-drone pengawas terus merekam bertambahnya lubang-lubang hitam di paru-paru bumi Lancang Kuning.