GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU — Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Riau kian terjepit. Seiring dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai merangsek ke area permukiman.
Pemerintah Provinsi Riau bersama BNPB dan BMKG terpaksa mengambil langkah ekstrem melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Tahap pertama operasi ini baru saja rampung dengan menyemai sedikitnya 35 ton garam (NaCl) ke langit Bumi Lancang Kuning.
Langkah ini seolah menjadi "nafas buatan" bagi tim darat yang kian kewalahan memadamkan api yang bersembunyi di bawah permukaan lahan gambut yang kering kerontang.
Api Dekati Permukiman, Tim Darat Terengah
Kondisi karhutla saat ini tidak lagi sekadar angka di atas kertas. Di Kabupaten Kampar, api dilaporkan berkobar sangat dekat dengan area hunian warga, memaksa tim gabungan bekerja ekstra keras demi mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda.
Tak hanya di Kampar, "raksasa merah" juga dilaporkan mengamuk secara sporadis di Kecamatan Gaung (Indragiri Hilir), Teluk Meranti (Pelalawan), Tanah Putih (Rokan Hilir), hingga wilayah pesisir di Pulau Rupat (Bengkalis).
Jim Ghafur, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Riau, mengakui bahwa tanpa bantuan hujan meski buatan pemadaman di darat nyaris mustahil dilakukan secara tuntas karena karakteristik gambut yang menyimpan panas.
"Modifikasi cuaca ini sangat membantu, terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat. Karakteristik lahan gambut di Riau membuat api mudah menjalar dan sangat sulit dipadamkan jika cuaca terus panas ekstrem," ujar Jim di Pekanbaru, Minggu (15/3).
Mendesak Tahap Kedua: Jangan Tunggu Riau Jadi Lautan Asap
Meskipun tahap pertama telah menyemai puluhan ton garam, realita di lapangan menunjukkan bahwa ancaman belum surut.
Rencana awal untuk melakukan tahap kedua pada April mendatang kini dinilai terlambat.
Pemprov Riau mendesak pemerintah pusat untuk mempercepat jadwal operasi lanjutan tersebut.
"Kita berharap pelaksanaan tahap lanjutan dapat dipercepat. Kondisi karhutla di sejumlah wilayah mulai meluas dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi," tegas pihak BPBD.
Ketergantungan pada Teknologi, Lemah di Pencegahan?
Tingginya ketergantungan Riau pada OMC memicu kritik tersirat soal efektivitas mitigasi di tingkat tapak.
Sejauh mana patroli pencegahan dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan dilakukan, hingga langit harus terus-menerus "disuntik" garam untuk memadamkan api yang seharusnya bisa dicegah?
Kini, nasib warga Riau bergantung pada awan-awan potensial di langit. Jika OMC tahap kedua terlambat dieksekusi, Riau terancam kembali masuk ke siklus kelam kabut asap tahunan yang melumpuhkan sendi ekonomi dan kesehatan masyarakat.