GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU, – Krisis Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau sudah dalam titik nadir. Di tengah kepungan asap tebal, tim gabungan di berbagai titik melaporkan kondisi genting api terus meluas sementara sumber air untuk pemadaman mulai mengering.
Kondisi paling kritis terpantau di Kabupaten Pelalawan. Estimasi luas lahan yang terbakar di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, kini telah mencapai angka fantastis, yakni 806 hektare.
Lumpuh Akibat Krisis Air
Edwin Putra, Koordinator Teknis Dalkarhut Seksi Wilayah II Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, mengakui bahwa api di berbagai lokasi masih gagal ditaklukkan.
Selain di Pelalawan, pemadaman di Kelurahan Mundam dan Tanjung Palas (Dumai) masih nihil hasil.
"Saat ini belum padam. Kendala utama adalah terbatasnya sumber air sehingga api belum bisa dipadamkan," tegas Edwin dikutip dari Riaupos.co.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Siak. Kawasan konservasi Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil di Desa Tasik Betung ikut membara dengan estimasi luasan mencapai 23 hektare.
Meski titik di Merempan Hilir dilaporkan terkendali, ancaman di kawasan lindung tetap menjadi alarm keras bagi kelestarian biodiversitas Riau.
Gambut Membara 2 Meter: Warga Panik Saat Hari Raya
Di Kabupaten Bengkalis, cuaca ekstrem memicu kembalinya bara api di lahan gambut yang sempat padam.
Wilayah Rupat hingga Pulau Bengkalis (Desa Pedekik dan Teluk Pambang) dilaporkan kembali mengepulkan asap tebal.
Ironisnya, musibah ini terjadi di tengah suasana hari raya. Warga yang seharusnya bersukacita justru diliputi kepanikan saat melihat api membumbung tinggi di dekat pemukiman.
Baca juga : Karhutla di Siak Berkobar di 3 Kecamatan Meluas ke Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, 30 Hektare Lahan Hangus
"Apinya sangat cepat merambat karena lahan gambut dan banyak kayu kering," ujar Ali, warga Desa Teluk Pambang.
Manajer Pusdalops BPBD Bengkalis, Erzansyah, mengungkapkan fakta mengerikan di lapangan, api merayap di bawah permukaan gambut hingga kedalaman dua meter.
Kondisi ini membuat pemadaman manual hampir mustahil dilakukan tanpa pasokan air yang masif.
Rohil Tetapkan Status Siaga 246 Hari
Merespons situasi yang kian tak terkendali, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir resmi memperpanjang Status Siaga Darurat Bencana Karhutla 2026.
Melalui Keputusan Bupati Nomor 102/BPBD/2026, status siaga ditetapkan selama 246 hari, terhitung sejak 18 Maret hingga 18 November 2026.
Bupati Rohil, H. Bistamam, menegaskan bahwa status ini bersifat dinamis.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Rohil, H. Syafnurizal, mulai mengupayakan bantuan jalur udara berupa water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Sedikit saja percikan api bisa berdampak besar. Kami minta kesadaran semua pihak, terutama pelaku usaha perkebunan, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar," tegas Syafnurizal.
Kini, nasib paru-paru Riau bergantung pada kecepatan bantuan udara dan munculnya hujan, mengingat sumber air darat tak lagi mampu membendung amuk api yang kian beringas.