Hukum

Korban Pemerasan Diduga Dilakukan Oknum Polsek Kampar Kiri Melapor ke Propam Polda Riau

GagasanRiau.Com Pekanbaru - Ajarman paman keluarga korban pemerasan diduga dilakukan oleh oknum polisi di Kepolisian Sektor (Polsek) Kampar Kiri melapor langsung ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Riau.

"Sudah kami laporkan ke Propam Polda. Kami bawa semua saksi yang melihat langsung penyerahan uang itu. Sore tadi baru selesai," kata Ajarman, Kamis (02/02/17).

Hal ini dilakukannya untuk membuktikan tuduhannya, bahwa pihak keluarga tersangka kasus pencabulan yang mengaku diperas oleh oknum Polisi di Kampar akhirnya melapor ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Riau.

Saat melapor ke Propam Polda Riau, Ajarman memboyong saksi-saksi yang mengaku ikut menyaksikan penyerahan uang kepada dua oknum Polisi itu.

Baca Juga PARAH!! 2 Oknum Polsek Kampar Kiri Diduga Peras Pelaku Pelecehan Seksual

Dalam laporannya, Ajarman juga menyertakan dokumen hasil Berita Acara Rapat Koordinasi di Desa Aur Kuning dimana saat itu digelar oleh Badan Pemberdayaan Desa pada 16 Januari 2017.

Isi dalam dokumen tersebut intinya menyatakan penolakan masyarakat desa terhadap penangkapan yang dilakukan oknum polisi tanpa adanya surat perintah.

Selain itu juga penolakan terhadap upaya pemerasan yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap masyarakat desa. "Semuanya (dokumen, red) kita sertakan dalam laporan," kata Ajarman.

Laporan Polisi tersebut sebagaimana diterima oleh wartawan bernomor STPL/17/II/2017/PROPAM. Di dlama laporan itu ia melaporkan dua oknum Polsek Kampar Kiri berpangkat Brigadir berinisial NS dan DA.

Sementara itu Kepala Bidang Propam Polda Riau Kombes Pol Pitoyo Agung Yuwono saat konfirmasi wartawan, membenarkan adanya laporan dari Ajarman.

"Kami sudah terima laporannya. Pasti setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti dengan baik," kata Pitoyo, Jumat (03/02/17).

Dberitakan sebelumnya, Ajarman ini paman dari ZR, remaja 17 tahun warga Desa Aur Kuning Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Ia jadi tersangka kasus pelecehan seksual‎ terhadap seorang gadis juga berusia 17 tahun. Kasus itu, terjadi pada 09 Desember 2016 lalu.

Dimana, Ajarman sebelumnya mengeluhkan masalahnya saat berkunjung ke salah satu kantor organisasi wartawan di Kabupaten Kampar. Pada saat itu ia menceritakan bahwa ada Pungutan Liar (Pungli) saat keluarga ZR menghadapi kasus di Kepolisian Kampar Kiri.

Saat itu mengatakan bahwa pihak keluarga tersangka dugaan pelecehan seksual, mengaku diperas oleh dua oknum polisi di Sektor Kampar Kiri tersebut.

"Total dana yang sudah kita setor sebesar Rp3,3 Juta dengan dua kali penyerahan," kata Ajarman, Senin (30/01/17) lalu.‎

Ajarman mengaku, pihaknya sadar bahwa kemenakannya tersebut memang salah meskipun masih dibawah umur. "Kita tahu bahwa dia (ZR) salah dan wajib diproses. Tapi janganlah diperas kayak gini, dia ini anak yatim," kata Ajarman.‎

Namun, lantaran ditakut-takuti oleh kedua oknum tersebut, tutur Ajarman, akhirnya pihak keluarga sepakat menyediakan dana sesuai permintaan.

Diterangkannya, kemenakannya ini adalah anak yatim dan tergolong tidak mampu.

"Ya kita ditakut-takuti bahwa kasus ini akan dinaikkan," ungkap Ajarman.‎

Akhirnya, pada 10 Desember 2016, pihaknya terpaksa menyerahkan uang senilai Rp3 juta kepada oknum penyidik NS dan DA di Cafe Tarra Lipat Kain. Sejumlah saksi, kata Ajarman, melihat penyerahan uang itu.

Keesokan harinya, ZR akhirnya dilepaskan.

Namun, tak sampai disitu, beberapa hari kemudian, oknum polisi berinisial Da kembali menjumpai Ajarman yang mengatakan bahwa kasus tersebut sangat berat dan mereka menawarkan akan mencarikan Jaksa dan Hakim untuk memegang kasus tersebut.‎

Pihak keluarga pun berkonsultasi dengan Kepala Desa dan mereka sanggup menyiapkan dana sebesar Rp20 juta dengan jaminan surat tanah.

Tak hanya itu, katanya, DA kembali meminta uang sebesar Rp500 ribu. Namun, hanya Rp 300 ribu yang bisa diserahkan Ajarman pada 17 Desember 2016 itu. Penyerahan‎ itu pun disaksikan sejumlah orang.

Dijelaskannya, dalam kasus ini, sebenarnya sudah dilakukan upaya diversi (mediasi, red) lantaran pelaku dan korban sama-sama masih dibawah umur.

Ajarman pun mengaku telah menyampaikan kejadian ini kepada sejumlah awak media di kantor PWI Cabang Kampar Jalan A Yani Bangkinang.

"Agar tak menjadi fitnah, dalam waktu dekat kami akan melapor ke Propam," tutup Ajarman.

Sebelumnya, terkait tuduhan serius terhadap anak buahnya ini, Kapolres Kampar AKBP Edi Sumardi Priadinata menampik dengan tegas.

Dijelaskannya, proses hukum dalam kasus tersebut telah ditangani dengan baik oleh Polsek Kampar Kiri.

"Mulai dari proses penerimaan laporan dari korban, pemeriksaan saksi dan melakukan mediasi sesuai permintaan keluarga tersangka," ungkap Edi, Selasa (31/01/17) via Whatsapp Messenger.‎

‎Sebagai konsultan yang solutif, kata Edi, Polri tentunya memfasilitasi permohonan pihak keluarga tersangka untuk dimediasi dengan keluarga korban.

"Dan, pelaku juga sudah kita tahan sesuai dugaan pelanggaran hukumnya," sebutnya.

Ternyata, lanjut Edi, selama proses mediasi yang dibantu oleh penyidik antara pelaku dan keluarga korban yang dihadiri oleh beberapa pihak keluarga, tidak tercapai mufakat.

Hal ini, terkait kompensasi‎ keluarga pelaku kepada pihak keluarga korban.

"Nah, tidak tercapainya kompensasi dari pihak keluarga pelaku kepada keluarga korban inilah yang disebut sebagai pemerasan. Ini kan sudah fitnah," tegas Edi Selasa lalu.

Editor Arif Wahyudi


[Ikuti GagasanRiau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar