Ruang Hidup Tergerus Korporasi HTI dan Sawit, Beruang Terkam Warga Pelalawan Hingga Kritis, BKSDA Riau Dinilai Pasif

Ruang Hidup Tergerus Korporasi HTI dan Sawit, Beruang Terkam Warga Pelalawan Hingga Kritis, BKSDA Riau Dinilai Pasif
Warga Desa Gondai Pelalawan yang diterkam Beruang

GAGASANRIAU.COM, PELALAWAN- Kembali masyarakat kecil tak berdosa menjadi korban dampak alih fungsi hutan belantara menjadi kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan, Riau.

Lantaran terjadi, penyempitan ruang hidup satwa liar secara masif yang berlangsung bertahun-tahun kini memicu konflik berdarah antara manusia dan predator yang kehilangan habitat aslinya.

Dan teror terbarunya kini menyelimuti warga Desa Gondai, Kecamatan Langgam, Pelalawan.

Seekor beruang liar yang terdesak keluar dari kawasan hutan mengamuk dan menerkam seorang warga hingga bersimbah darah pada Rabu (5/8/2026).

Korban yang mengalami luka sabetan serius di sekujur tubuhnya saat ini tengah berjuang bertahan hidup dalam perawatan darurat di RSUD Selasih.

Firmasnyah, tokoh Masyarakat yang juga menjabat sebagai Bathin Mudo Gondai, menegaskan insiden tragis ini merupakan manifestasi nyata dari rusaknya ekosistem hutan akibat aktivitas industri.

"Ini sudah kejadian yang ketiga kalinya. Sudah tiga orang warga kami yang menjadi korban. Hari ini, korban harus dilarikan cepat ke RSUD Selasih untuk mendapat perawatan darurat," tegas Firmansyah saat dihubungi wartawan.

Eskalasi teror satwa liar ini berdampak langsung pada kelumpuhan aktivitas ekonomi dan pembatasan ruang gerak warga Desa Gondai.

Warga kini diliputi rasa cemas berlebih saat hendak beraktivitas harian, mulai dari menggarap kebun hingga sekadar melintasi pinggiran desa.

Di tengah kepungan ketakutan warga, sorotan tajam mengarah pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau. Otoritas konservasi tersebut dinilai pasif dan hanya memberikan respons formalitas setiap kali jatuhnya korban jiwa dilaporkan.

Warga menyayangkan respons BKSDA yang dinilai tak pernah beranjak dari retorika "persiapan tim" tanpa ada eksekusi nyata di lapangan, baik untuk evakuasi satwa maupun penindakan terhadap pemicu penyempitan habitat.

Firmansyah memperingatkan bahwa pembiaran atas krisis ekologi dan teror satwa ini menyimpan bom waktu berupa frustrasi massal.

Jika otoritas terkait terus abai, warga berpotensi mengambil langkah nekat main hakim sendiri demi melindungi keselamatan jiwa keluarga mereka.

Kondisi tersebut menjadi pilihan pahit yang berisiko menyeret masyarakat kecil ke ranah hukum.

Oleh karena itu, masyarakat mendesak negara melalui BKSDA Riau hadir secara nyata di lapangan.

Langkah-langkah konkret seperti identifikasi jalur jelajah satwa, pemantauan ketat, hingga tindakan evakuasi mendesak dilakukan sebelum jatuh korban berikutnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak BKSDA Riau masih belum memberikan keterangan resmi maupun penjelasan mengenai langkah penanganan konkret di lokasi kejadian.

Sementara waktu, warga Desa Gondai hanya bisa pasrah dan saling menjaga di tengah ancaman teror satwa yang kian meresahkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index