Mahasiswa KUKERTA UNRI Sosialisasi Pembuatan Pupuk Kompos di Desa Barangan

Ahad, 07 Agustus 2022 - 15:02:41 wib | Dibaca: 782 kali 
Mahasiswa KUKERTA UNRI Sosialisasi Pembuatan Pupuk Kompos di Desa Barangan
Mahasiswi KUKERTA UNRI saat mempraktekkan pembuatan pupuk kompas di Desa Barangan.

GAGASANRIAU.COM, INHU - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Balik Kampung Universitas Riau (UNRI) 2022 menggelar sosialisasi pembuatan pupuk kompos.

Sosialisasi itu kepada masyarakat petani Desa Barangan, Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, berlangsung pada bulan Juli hingga Agustus 2022. 

Ketua KUKERTA UNRI Desa Barangan, Robby Ginawan mengatakan, kegiatan itu berteman “Sosialisasi dan praktik pembuatan limbah organik menjadi pupuk kompos” dalam rangka membantu petani setempat.

"Ini salah satu bentu kontribusi dan sumbangsih kami kepada para petani dalam memanfaatkan limbah rumah tangga dan kotoran sapi yang bisa diolah menjadi pupuk kompos," kata Robby, Sabtu lalu (6/8).

Dalam sosialisasi tersebut Mahasiswa mengajarkan cara pengolahan limbah organik dan kotoran sapi menjadi kompos yang nantinya akan dimanfaatkan warga untuk tanaman yang lebih subur.

"Tujuan untuk mengembangkan Desa Barangan menjadi desa yang lebih bijak dalam mengelola limbah kotoran ternak menjadi pupuk kompos," paparnya.

Sehingga dengan adanya sosialisasi ini, sambungnya, Mahasiswa berharap mampu membantu masyarakat desa Barangan untuk mengetahui bahwa potensi yang telah dimiliki oleh desa tersebut, serta mengetahui tata cara dalam pengolahan pupuk kompos yang benar.

Robby mengatakan, mengingat bahwa desa ini sebagian besar masyarakatnya memiliki ternak sapi dan kambing, sehingga sangat disayangkan apabila kotoran ternak tersebut hanya dibuang begitu saja tanpa ada pengelolaan lebih lanjut. 

"Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini mungkin bisa membuat masyarakat lebih bijak dalam mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos," sambungnya.

Dalam sosialisasi itu, Mahasiswa KUKERTA, Nola Sukma menjelaskan mengenai cara pengolahan limbah organik, manfaat menggunakan pupuk kompos untuk tanaman serta bagaimana cara mengaplikasikan di tanaman. 

Dengan berlangsungnya penyampaian materi sosialisasi tersebut para petani sangat antusias dalam melontarkan beberapa pertanyaan. Setelah pemateri sudah menjawab dan menjelaskan materi kompos kegiatan tersebut dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk kompos. 

"Dimana bahan dan alat yang dibutuhkan sudah disiapkan sebelum kegiatan dimulai. Sosialisasi ini berlangsung sukses, karena para tamu undangan sangat tertarik dengan pembuatan pupuk kompos ini," paparnya lagi.

Pembuatan pupuk kompos ini hanya membutuhkan bahan dan alat yang mudah ditemukan seperti sampah organik (sayuran, kulit buah, daun kering, dll.), EM4, gula aren, air, dan kotoran hewan ternak. Alat dan perlengkapan yang diperlukan antara lain yaitu ember, sarung tangan, cangkul dan perlak hitam yang telah dirancang menjadi bak kompos.

Lebih lanjut Robby menjelaskan, berdasarkan sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk kompos yang telah dilaksanakan oleh Mahasiswa, dan dari pemaparan dari petani setempat, dapat diketahui bahwa potensi desa ini sangat bagus untuk dikembangkan. 

Melihat sebagian masyarakat di desa ini memiliki 2 profesi yang bergantung pada musim. Pada saat musim kemarau masyarakat desa Barangan tidak bercocok tanam melainkan lebih cendrung berternak. Sedangkan pada musim penghujan masyarakat desa kembali menjadi petani bercocok tanam. 

"Sehingga dengan adanya hal tersebut, proses pembuatan pupuk ini sangat bagus diterapkan pada saat musim kemarau. Karena dalam proses pembuatan pupuk kompos kurang bagus bila dilakukan di musim penghujan," paparnya.

Maka, paparnya lagi, pembuatan pupuk kompos ini menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh Desa Barangan untuk meningkatkan tingkat kesuburan tanah dan menambah pendapatan masyarakat dengan penjualan pupuk kompos.


Loading...
BERITA LAINNYA