GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU, — Ambisi pemerintah pusat meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dimanfaatkan oknum pemburu rente di daerah untuk meraup keuntungan pribadi.
Di Riau, program andalan Presiden Prabowo Subianto ini diduga dijadikan kedok penipuan oleh Jery Varmata, yang tak lain adalah putra kandung mantan Bupati Kampar dua periode, Jefry Noer.
Jery, yang juga tercatat sebagai kader Partai Demokrat Kabupaten Kampar, kini harus berhadapan dengan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau.
Ia dilaporkan atas dugaan penggelapan dan penipuan yang menyebabkan kerugian fantastis mencapai Rp1,35 miliar.
Janji Manis di Meja Kafe
Bau amis dugaan penipuan ini bermula pada 17 Juli 2025. Di sebuah kafe di Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Jery diduga menebar "jala" janji kepada Hardi Dirhamsyah.
Bermodalkan pengaruh politik dan program nasional, Jery menawarkan kerja sama pendirian dapur MBG dengan skema bagi hasil yang menggiurkan.
Tergiur dengan nama besar terlapor dan program strategis pemerintah, korban pun menyerahkan sejumlah uang, menyewa rumah, hingga merogoh kocek untuk renovasi infrastruktur dapur. Namun, bak panggang jauh dari api, investasi miliaran rupiah itu justru berujung nestapa.
"Sejak dapur beroperasi Oktober 2025, keuntungan maupun modal tak pernah kembali. Operasional justru dikuasai sepenuhnya oleh terlapor," ungkap pelapor.
Polisi Mulai Membedah Pidana
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Muhammad Hasyim Risahondua, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah memproses laporan bernomor LP/B/34/I/2026 tersebut.
"Ya, benar ada (laporannya)," ujar Hasyim singkat melalui pesan daring, Kamis (19/2) kepada BUKAMATA.CO.
Penyidik Unit 3 Subdit 1 Ditreskrimum Polda Riau kini bergerak cepat memanggil sejumlah saksi di Jalan Pattimura No. 13, Pekanbaru.
Konstruksi perkara ini mengarah tajam pada dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan sebagaimana diatur dalam KUHP.
Program Rakyat Jadi Bancakan Politisi?
Kasus ini menjadi sorotan tajam karena melibatkan anak dari tokoh politik berpengaruh di Kampar. Publik mempertanyakan bagaimana program nasional yang menyangkut hajat hidup orang banyak bisa begitu mudah diprivatisasi secara personal untuk kepentingan bisnis yang tidak transparan.
Keterlibatan Jery Varmata sebagai kader partai sekaligus anak mantan penguasa daerah menambah dimensi kritis dalam kasus ini.
Apakah ini sekadar penipuan bisnis biasa, atau ada penyalahgunaan pengaruh (trading in influence) yang lebih dalam?.
Langkah Polda Riau kini menjadi ujian konsistensi penegakan hukum. Publik menanti, apakah polisi berani menyentuh "darah biru" politik Riau ini, ataukah kasus ini akan menguap di tengah jalan?.
Skandal Rp1,35 miliar ini bukan sekadar soal uang, melainkan soal integritas program nasional yang dikotori oleh syahwat materi oknum elit lokal.