Ekonomi

Berani Beli Lebih Mahal dari HPP, Tengkulak Kuasai Pembelian Beras dari Petani

ilustrasi

Gagasanriau.com, PEKANBARU - Bulog Divisi Regional (Divre) Riau dan Kepulauan Riau mengaku selalu kesulitan menyerap beras dari petani lokal, karena kalah bersaing dengan tengkulak, yang berani membeli beras petani dengan harga di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Menurut Humas Bulog Divre Riau dan Kepulauan Riau, Hendra Gunafi bahwa selama ini Bulog hanya membeli beras dengan kualitas medium. Sedangkan swasta atau tengkulak membeli semua jenis beras milik petani, termasuk kualitas premium. Sehingga konsekuensinya, petani lebih memilih menjual berasnya kepada pihak swasta dari pada Bulog.

"Harga pembelian tengkulak yang lebih tinggi, juga berdampak pada mitra kerja Bulog, sehingga Bulog tak punya pilihan. Selain mengoptimalkan jaringan untuk menyerap beras agar stok aman. Kalau Bulog kan harganya sudah dipatok, jadi tidak bisa lebih mahal dan petani pasti akan lebih memilih menjual ke harga yang lebih tinggi," ungkapnya, Selasa (31/5/2016).

Dia mengatakan, selain itu, Bulog terus mengoptimalkan peran Serbu Gabah (Sergab) agar petani mau menjual gabahnya ke Bulog agar stok beras, terutama saat Ramadhan dan lebaran dapat dipenuhi walaupun cadangan beras selama ini cukup melimpah.

"Jadi pengadaan beras di Bulog Riau Kepri mengandalkan sejumlah daerah yang menjadi sentra atau lumbung beras. Seperti Kuala Kampar di Kabupaten Pelalawan, Bunga Raya Kecamatan Siak dan Reteh Kabupaten Indragiri Hilir," urainya seperti dilansir RRI.

Menurutnya, pada tahun ini, Bulog Divre Riau Kepri baru menyerap 400 ton gabah dari petani lokal dan sudah dikonversikan menjadi 250 ton beras. "Tapi kami akan terus berusaha menyerap beras dari petani lokal untuk pengadaan beras dalam negeri," katanya. ***

 

 

Editor: Neldi Syahputra


[Ikuti GagasanRiau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar