Bengkalis Krisis Air Bersih, Waduk Menjadi Daratan, Rakyat Dipaksa Beli Dahaga

Bengkalis Krisis Air Bersih, Waduk Menjadi Daratan, Rakyat Dipaksa Beli Dahaga
Penampakan waduk air baku Perumda Tirta Terubuk Bengkalis yang kering kerontang akibat kemarau panjang dan membuat produksi air bersih berkurang drastis, Selasa (41/3/2026). (Foto Riaupos.co)

GAGASANRIAU.COM, BENGKALIS – Miris memang. Penderitaan warga Kabupaten Bengkalis, Riau, seolah tak bertepi. Di tengah kepungan kabut asap Karhutla, kini ribuan pelanggan air bersih yang dikelola Perumda Tirta Terubuk harus menelan pil pahit akibat krisis air bersih yang kian mencekik.

Ironi tersebut memuncak saat warga tetap dibebani tarif langganan tinggi, sementara keran di rumah mereka lebih sering mengeluarkan angin ketimbang air. Selasa (31/3/2026), keluhan warga mulai pecah.

Sebagaimana diungkapkan Arif, seorang pelanggan di Desa Air Putih, dia membeberkan fakta memprihatinkan bahwa air bersih sudah tidak mengalir lancar selama lebih dari satu bulan. Otomatis tanpa cadangan air, warga terjebak dalam kondisi yang tidak manusiawi.

Paradoks Pelayanan: Mengalir Hanya Saat Subuh

Kebutuhan dasar untuk mencuci, memasak, hingga MCK kini menjadi kemewahan yang sulit didapat.

Diungkapkan Arif bahwa air hanya mengalir pada waktu subuh dengan durasi sangat singkat, yakni sekitar satu jam, dan tepat pukul 06.00 WIB aliran langsung terhenti.

"Sudah lebih sebulan ini air bersih dari Perumda Tirta Terubuk Bengkalis tak mengalir lancar. Mau mengambil air sumur kualitasnya tak layak karena warna merah dan baunya menyengat. Terkadang harus membeli air bersih kemasan galon dengan harga cukup mahal," keluh Arif dikutip dari Riaupos.co.

Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang mengerikan, keran-keran di depan rumah pelanggan kering kerontang.

Waduk air baku di Wonosari, Bengkalis, telah mencapai titik nadir. Kemarau panjang telah menguapkan cadangan air hingga dasar waduk terlihat jelas, menampakkan tanah yang kering dan pecah mengeras.

Kekeruhan 1.600 NTU: Air Baku Berubah Menjadi Lumpur

Bukan hanya volume air yang lenyap, kualitas sisa air yang ada pun berada dalam level berbahaya. Tingkat kekeruhan air baku melonjak tajam hingga mencapai 1.600 Nephelometric Turbidity Unit (NTU).

Baca juga : Siak di Ambang Eksodus Medis, Dokter Spesialis Ancam Mutasi Massal, Tangis Pecah di Ruang Sidang

Angka ini merupakan anomali yang mengerikan mengingat ambang normal maksimal hanya berada di angka 100 NTU.

Abel Iqbal, Direktur Utama Perumda Tirta Terubuk Bengkalis, mengakui kondisi ini melumpuhkan teknologi canggih yang mereka miliki.

"Pengolahan menggunakan nano filter tidak bisa dilakukan karena berisiko merusak peralatan jika dipaksakan menangani kekeruhan 1.600 NTU," jelas Abel.

Beban Operasional Membengkak, Rakyat Tetap Merugi

Demi menyambung napas distribusi, pihak Perumda terpaksa kembali ke metode pengolahan konvensional. Namun, langkah ini menuntut biaya operasional yang sangat tinggi.

Dalam satu hari, kebutuhan bahan kimia melonjak drastis: 1,2 ton alum dan 800 kilogram soda harus digelontorkan.

Bandingkan dengan kondisi normal yang hanya menghabiskan 500 kilogram alum dan 300 kilogram soda.

Meski biaya membengkak, Abel Iqbal mengklaim pihaknya tetap berupaya maksimal agar distribusi tetap berjalan, walaupun kualitas air yang dihasilkan jauh menurun dan tidak sebaik saat menggunakan teknologi nano filter.

"Kami mohon maaf kepada pelanggan jika air yang diterima tidak seperti biasanya. Kami tetap beroperasi semaksimal mungkin agar masyarakat masih bisa menikmati air," tuturnya.

Kegagalan Infrastruktur Waduk

Abel juga menyinggung kondisi memprihatinkan dua waduk utama di Bengkalis, baik yang dibangun melalui dana APBD maupun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS). Keduanya mengalami kekeringan total akibat minimnya pasokan.

"Air yang masuk ke waduk sangat sedikit karena parit-parit sudah menyusut akibat tidak adanya hujan dalam beberapa bulan terakhir," pungkas Abel Iqbal.

Krisis ini menjadi rapor merah bagi manajemen sumber daya air di Bengkalis. Di tengah status darurat yang berkepanjangan, rakyat dipaksa membayar mahal untuk pelayanan yang kering, sementara infrastruktur waduk yang menelan anggaran besar terbukti tak berdaya menghadapi kemarau.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index