GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Pergantian ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau berjalan dengan lancar Selasa (23/12/2025) malam, Saidul Amin terpilih menahkodai ulama di Riau pada periode 2025-2030, dalam pidato perdananya langsung berapi-api menyinggung kondisi Riau saat ini.
Dua poin penting yang disampaikan mantan ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Riau tersebut tentang Riau sebagai wabah penyebaran LGBT dan narkoba serta tingginya angka perceraian.
Ia menceritakan saat menghadiri acara wisuda anaknya di Malaysia pekan lalu, saat itu ia bertemu dengan wakil rektor sebelumnya di Internasional Islamic University Malaysia, yang menceritakan jika kampus kedokteran mereka melayani pengobatan orang terpapar LGBT.
Profesor bernama Syamsul itu menurut Saidul Amin mengajak untuk kolaborasi dengan fakultas kedokteran yang ada di Provinsi Riau.
"Dia bercerita kepada saya, bagaimana kalau fakultas kedokteran yang mereka miliki bisa berkolaborasi dengan fakultas kedokteran yang ada di Provinsi Riau,"ujar Saidul Amin.
Dengan penasaran, Saidul Amin pun langsung menanyakan apa kelebihan Fakultas Kedokteran ang ada di IIM tersebut, ternyata memiliki layanan khusus dan klinik yang mengobati orang yang terpapar LGBT.
"Pendekatannya multi aspek, ternyata orang LGBT itu punya hormon yang berbeda dengan orang normal, maka perlu ada pendekatan hormon, dan ini dalam wilayah Ilmu kesehatan modern,"ujar Saidul Amin.
Kemudian lanjutnya bercerita mereka LGBT juga perlu ada pendekatan psikologi, sebab kejiwaan mereka terganggu, mereka juga perlu ada pendekatan spiritual, disinilah peran para ustadz.
"Tapi yang buat telinga saya panas adalah, dia menyatakan bahwa pasien kami yang paling banyak berasal dari Riau, lama saya termenung, sehingga klinik mereka ada dua, satu di Kuantan, Malaysia dan satu lagi di Batam, Indonesia,"ujar Saidul Amin menjelaskan.
Artinya lanjut Saidul Amin, Riau punya wabah yang menyedihkan namun orang lain yang menyelesaikan di Malaysia.
"Oleh sebab itu tugas MUI ke depan tidak lagi berbicara, hal-hal buruk, hal-hal yang memang sudah diperdebatkan ribuan tahun yang lalu, tapi bagaimana mampu menjawab tantangan umat yang luar biasa ini,"tegas Saidul Amin.
Apalagi Riau hingga saat ini menurut Saidul Amin belum memiliki sekolah kader ulama, padahal setiap hari melakukan diskusi kekurangan ulama,
Kemudian Saidul Amin juga menyoroti catatan buruk Riau sebagai sumber pemasokan narkoba terbesar di Indonesia, berikut pecandu narkoba yang luar biasa banyaknya di Provinsi Riau.
"Tapi sampai hari ini Riau belum punya tempat pemulihan narkoba, maka Mui harus turun tangan, bagaimana Mbah Anom sudah melakukan itu di pesantrennya?, Kenapa kita tidak melakukan itu di sini?,"ajak Saidul Amin.
Tidak sampai disitu, kasus perceraian juga menurutnya sangat tinggi di Riau. Namun peran MUI hingga sekarang belum punya tempat bimbingan counseling yang holistik di Provinsi Riau.
"Anak yang masih duduk di SMP sudah menikah karena menghamili teman sekelasnya, coba kita bayangkan bagaimana kondisi masyarakat hari ini, sudah tahu hal-hal yang sepatutnya mereka belum boleh mengetahui itu,"ujarnya.
Untuk itu, tantantang MUI kedepannya menurut Saidul Amin sangatlah berat, sehingga ia sebagai ketua yang baru mengharapkan dukungan dari semua pihak demi tercapainya tujuan yang mulia dalam mencetak ulama dan membentengi umat dari ancaman yang luar biasa itu.
"Oleh karena itu Ketua MUI ini sesungguhnya beban yang sangat berat tanpa bantuan bapak-bapak, Ibu-ibu, segenap ormas MUI Kabupaten Kota
Kami tidak bisa melakukan ini,"tegasnya.(*)