Tragis! Warga Kuansing Diterkam Buaya di Lokasi Ritual Mambasuah Nagori, Tokoh Adat Kritik Politisasi Tradisi

Tragis! Warga Kuansing Diterkam Buaya di Lokasi Ritual Mambasuah Nagori, Tokoh Adat Kritik Politisasi Tradisi
Penampakan warga yang diterkam buaya

GAGASANRIAU.COM, KUANSING  — Sungai Kuantan berdarah usai insiden warga diterkam buaya. Adalah Iyut berusia 60 tahun, warga Dusun 1 Koto, Desa Koto Kombu, dilaporkan menderita luka berat usai diterkam buaya saat tengah mandi di sungai pada Jumat (20/2) sore.

Dan naasnya lagi, lokasi serangan predator tersebut berada tepat di titik ritual tabur kepala kerbau dalam prosesi adat 'Mambasuah Nagori' IV Koto Lubuk Ambacang yang belum lama ini digelar.

Dampak kejadian tragis itu pun memicu kritik pedas dari tokoh adat setempat yang menilai adanya pergeseran nilai dalam pelaksanaan tradisi yang kini dianggap terlalu berbau politis.

Luka Parah, Korban Dilarikan ke RSUD

Kondisi Iyut dilaporkan cukup memprihatinkan. Gigitan predator air tersebut menyebabkan luka robek yang sangat dalam hingga klinik setempat tak sanggup menangani.

Dan akhirnya korban pun harus dilarikan ke RSUD Teluk Kuantan untuk mendapatkan perawatan intensif.

"Korbannya warga Koto Kombu diterkam buaya saat mandi. Sekarang dibawa ke RSUD Teluk Kuantan setelah klinik tak mampu menangani," ujar salah seorang pemangku adat IV Koto Lubuk Ambacang yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jumat (20/2).

Kritik Tajam: Adat Dicampur Aduk Politik

Insiden ini seolah menjadi pemantik keresahan mendalam bagi para pemangku adat di Hulu Kuantan. Lokasi kejadian yang persis berada di tempat pembuangan kepala kerbau ritual 'Mambasuah Nagori' dinilai bukan sekadar kebetulan, melainkan alarm atas rusaknya tatanan nilai.

Tokoh adat tersebut menyentil pelaksanaan ritual kemarin yang justru kental dengan kehadiran tokoh-tokoh politik Kuansing.

Ia menilai, sakralitas adat kini telah terdistorsi oleh ambisi politik tertentu.

"Adat saat ini sudah dicampuradukkan dengan unsur politik untuk tujuan politik tertentu. Sehingga adat banyak disalahgunakan. Tak tahu lagi mana yang hak dan yang batil," cetusnya dengan nada getir.

Mundurnya Nilai ‘Adat Bersandi Syarak’

Kritik semakin tajam saat ia menyinggung prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Menurutnya, para pemangku adat saat ini bertindak tidak lagi sesuai dengan norma dan nilai-nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi.

Munculnya kembali keganasan buaya di lokasi ritual tersebut dianggap sebagai pengingat keras bagi para pemegang kebijakan adat untuk kembali ke khittah, dan tidak menjadikan panggung tradisi sebagai komoditas politik praktis.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian maupun pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi terkait mitigasi konflik manusia dan buaya di area Sungai Kuantan yang kian mengkhawatirkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index