GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Penampakan wajah Jalan Jenderal Sudirman, urat nadi utama Kota Pekanbaru, kembali tercoreng oleh semrawutnya parkir berlapis di depan Pasar Buah.
Meskipun Dinas Perhubungan (Dishub) Pekanbaru berulang kali mengklaim telah melakukan penertiban, kenyataan di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang kontras. Aturan seolah hanya menjadi pajangan bagi para pelanggar.
Penertiban yang dilakukan pemerintah kini dinilai publik tak lebih dari sekadar "aksi panggung" seremonial.
Pasalnya, tak lama setelah petugas beranjak dari lokasi, barisan kendaraan kembali mengular dan memakan badan jalan, menciptakan kemacetan horor yang merugikan ribuan pengguna jalan lainnya.
Siasat 'Kucing-kucingan' dan Pengawasan Mandul
Plt Kepala UPT Parkir Dishub Pekanbaru, Rafit Dwi Febri, sebelumnya sesumbar akan memaksimalkan pengawasan, terutama menjelang momentum Ramadan. Namun, janji tinggal janji.
Pantauan di lapangan menunjukkan ruas jalan yang seharusnya memiliki tiga lajur efektif, kini menyempit drastis akibat parkir sembarangan.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar. Mengapa pengelola dan pengendara di kawasan Pasar Buah seolah tidak memiliki rasa takut terhadap sanksi?
"Setiap ada razia memang rapi sebentar, tapi besoknya kembali lagi parkir sampai makan badan jalan. Jadi macet terus," ungkap Budi, warga yang terjebak kemacetan, Minggu (1/3). Menurut Budi, pengawasan Dishub hanya bersifat reaktif dan hangat-hangat kuku.
Lahan Parkir Luas yang Tak Terjamah
Ironisnya lagi, Pasar Buah Sudirman sebenarnya memiliki area parkir internal yang cukup luas. Namun, demi syahwat kepraktisan, para pengendara lebih memilih "mencuri" badan jalan dengan memarkirkan kendaraannya secara berlapis.
Keengganan pengelola untuk mengarahkan pengunjung secara tegas ke area dalam, ditambah dengan lemahnya pengawasan rutin dari Dishub, membuat kawasan ini menjadi titik hitam kemacetan yang permanen di Pekanbaru.
Menagih Ketegasan, Bukan Sekadar Imbauan
Publik kini menagih keberanian Dishub Pekanbaru untuk bertindak lebih dari sekadar mengimbau.
Tanpa adanya petugas yang berjaga secara permanen atau tindakan tegas seperti penggembokan hingga penderekan rutin, penertiban parkir di Pasar Buah Sudirman akan terus berakhir menjadi lelucon di mata masyarakat.
Jika menjelang Ramadan ini pemerintah gagal mengurai benang kusut di satu titik krusial saja, lantas bagaimana masyarakat bisa percaya pada komitmen besar tata kelola transportasi di Kota Bertuah?.
Masyarakat tidak butuh foto-foto razia di media sosial; masyarakat butuh jalanan yang lancar tanpa "disandera" oleh parkir berlapis yang tak kunjung tamat ceritanya.