Harapan Meraup Ringgit Berujung Kegetiran: 114 PMI Dideportasi, Pulang Membawa Sakit dan Ganguan Jiwa

Harapan Meraup Ringgit Berujung Kegetiran: 114 PMI Dideportasi, Pulang Membawa  Sakit dan Ganguan Jiwa
Sebanyak 14 PMI bermasalah dari Malaysia tiba di Pelabuhan Internasional Dumai, Sabtu (28/2/2026).

GAGASANRIAU.COM, DUMAI – Harapannya pulang membawa pundi-pundi uang untuk keluarga di kampung halaman, 114 Pekerja Migran Indonesia (PMI) justru harus menelan pil pahit.

Para PMI ini dipulangkan paksa (deportasi) dari Malaysia dan tiba di Pelabuhan Internasional Dumai, Sabtu (28/2/2026), dengan wajah lelah dan trauma yang mendalam.

Bukan sekadar urusan dokumen, kepulangan ratusan "pahlawan devisa" non-prosedural ini mengungkap sisi gelap eksploitasi dan kerentanan pekerja migran di negeri jiran.

Pulang dalam Kondisi Memprihatinkan

Tim medis dari Balai Kekarantinaan Kesehatan Pelabuhan mendapati kenyataan pahit saat melakukan pemeriksaan fisik. Dari 114 orang yang tiba, empat di antaranya berada dalam kondisi sangat rentan dan membutuhkan intervensi medis darurat.

"Dari hasil pemeriksaan, terdapat satu orang dalam kondisi hamil enam bulan, satu orang mengalami gangguan mental, satu menderita TBC, dan satu lainnya sakit hernia," ungkap Kepala BP3MI Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, Minggu (1/3/2026).

Potret ini menunjukkan betapa tingginya risiko yang harus dihadapi para pekerja saat menempuh jalur ilegal. Tanpa jaminan kesehatan dan perlindungan hukum, mereka tidak hanya terancam jeruji besi, tetapi juga kerusakan fisik dan mental yang permanen.

Jejak Tahanan di Machap Umboo

Sebelum akhirnya diseberangkan menggunakan Kapal Indomal Dynasty dengan pengawalan KJRI Johor Bahru, para pekerja ini sempat mencicipi dinginnya sel di Depot Tahanan Imigresen (DTI) Machap Umboo, Melaka.

Berdasarkan data resmi, rombongan ini didominasi oleh warga asal Jawa Timur (23 orang), disusul Aceh (22 orang), dan Sumatera Utara (21 orang). Sisanya tersebar dari Riau, NTB, Jawa Barat, Kalimantan Barat, hingga Jawa Tengah.

Memutus Rantai Keberangkatan Gelap

Setibanya di Dumai, para pekerja ini langsung dibawa ke 'Rumah Ramah PMI'. Di sana, pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan BP3MI Riau tidak hanya memberikan tempat bernaung, tetapi juga pendampingan psikologis dan edukasi.

Langkah ini dilakukan untuk memberikan rasa aman sekaligus memberikan pemahaman mengenai risiko jalur ilegal. Edukasi intensif menjadi kunci untuk memutus rantai sindikat perdagangan orang yang kerap menjebak masyarakat kecil dengan iming-iming gaji besar, padahal sering kali berakhir dengan pertaruhan nyawa.

Saat ini, pihak berwenang fokus pada pemulihan kesehatan keempat pekerja yang sakit sebelum nantinya memfasilitasi kepulangan seluruh rombongan ke daerah asal masing-masing. 

Tragedi ini kembali menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan di pintu keluar-masuk ilegal dan memperluas lapangan kerja di dalam negeri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index