GAGASANRIAU.COM, PELALAWAN -- Kembali, alarm bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berbunyi di Kabupaten Pelalawan, Riau.
Ditambah minimnya curah hujan serta cuaca panas ekstrem yang melanda dalam dua pekan terakhir memicu munculnya belasan titik panas (hotspot) yang mengancam wilayah bertekstur gambut tersebut.
Jika mengacu pada pantauan satelit BMKG Riau pada Senin (9/3/2026), setidaknya terdapat 11 hotspot yang muncul di Negeri Seiya Sekata ini.
Dan belasan titik panas tersebut terpantau tersebar di dua kecamatan krusial, yakni Teluk Meranti dan Pangkalan Kerinci.
Teluk Meranti Jadi Zona Merah
Dari belasan titik panas yang terdeteksi, konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Teluk Meranti dengan 10 titik panas, sementara Pangkalan Kerinci menyumbang satu titik.
Penumpukan hotspot di Teluk Meranti menjadi perhatian serius mengingat wilayah ini merupakan daerah paling rentan dilanda Karhutla hebat.
Merespons temuan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung menerjunkan tim ke lapangan.
Langkah ini diambil guna memastikan titik panas tersebut tidak bertransformasi menjadi titik api yang memicu kebakaran hebat.
"Ya, tim rayon Kecamatan Teluk Meranti telah melakukan pengecekan ke lokasi temuan hotspot yang terpantau satelit. Alhamdulillah, kita pastikan titik panas itu tidak berubah menjadi titik api," terang Kepala Pelaksana BPBD Pelalawan, Zulfan MSi, Senin (9/3/2026) di Pangkalan Kerinci.
Ancaman Kemarau Kering
Selain itu juga, Zulfan, mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan, mengungkapkan bahwa peningkatan titik panas ini merupakan dampak langsung dari kemarau kering yang melanda dua pekan terakhir.
Meskipun potensi hujan masih ada, intensitasnya tercatat sangat rendah sehingga tidak cukup untuk membasahi lahan gambut yang mulai mengering.
"Untuk itu, kita tentunya tetap terus siaga terhadap potensi Karhutla. Di mana tim terus intens melakukan patroli titik panas agar tidak berubah menjadi titik api. Serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran, khususnya membuka lahan untuk berkebun," tegasnya.
Status Siaga Darurat Hingga November
Kritisnya situasi ini dipertegas dengan keputusan Pemkab Pelalawan yang telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Karhutla sejak 16 Februari lalu hingga 31 November mendatang.
Ketetapan ini bukan tanpa alasan; sepanjang awal tahun 2026, kasus Karhutla di Pelalawan telah mencapai angka yang mencemaskan.
Tercatat, api telah melalap lahan yang sangat luas di Kecamatan Kuala Kampar, Teluk Meranti, dan Pangkalan Kerinci.
Total lahan gambut yang telah hangus dilalap api hingga saat ini mencapai angka fantastis, yakni 612 hektare lebih.
"Jadi, kita tentunya akan terus berkomitmen untuk mencegah terjadi Karhutla di Pelalawan melakukan patroli. Namun demikian, kita tentunya tetap terus mengimbau agar masyarakat dapat menjaga lingkungan dengan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, khususnya untuk berkebun," pungkas Zulfan.
Kini publik menanti konsistensi komitmen pemerintah daerah. Dengan luas lahan terbakar yang sudah menyentuh ratusan hektare di awal tahun, mampukah patroli rutin menahan laju api di tengah kemarau yang kian menyengat?