Pendidikan

Tim KUKERTA UNRI Ikut Serta Lestarikan Kuda Lumping di Desa Kusau Makmur

Mahasiswa KUKERTA UNRI foto bersama usai pergelaran seni budaya kuda lumping di Dusun 4 Desa Kusau Makmur, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, pada Rabu lalu (20/07/2022).

GAGASANRIAU.COM, KAMPAR - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau (UNRI) ikut serta melestarikan dengan menghadiri pertunjukan kuda lumping.

Pertunjukan kesenian daerah tersebut digelar di Dusun 4 Desa Kusau Makmur, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, pada Rabu lalu (20/07/2022), disebuah pesta pernikahan.

Ketua KUKERTA, Putra Hidayat mengatakan, partisipasi mahasiswa dalam pertunjukan kebudayaan adat jawa itu dalam rangka kebersamaan masyarakat dengan mahasiswa KUKERTA dalam melestarikan budaya Jawa.

"Inilah salah satu bukti kebersamaan dan keterbukaan masyarakat Desa Kusau Makmur dalam membudayakan adat Jawa," kata Putra Hidayat.

Sebagai salah satu desa yang terletak di Kampar yang merupakan daerah di Sumatra, namun di desa ini terdapat berbagai suku dengan beragam kebudayaan dikarenakan desa kusau makmur yang merupakan desa multi culture. 

"Salah satunya ialah kesenian kuda lumping ini yang merupakan kesenian dari tanah  jawa yang harus dilestarikan," terangnya.

Pagelaran yang diadakan dari pukul 15: 30 hingga 01: 30 berjalan lancar tanpa mengalami kendala sama halnya dengan semangat komunitas Paguyuban Kuda Lumping Joyo Makmur.

Kegiatan Ini merupakan salah satu rangkaian dari acara adat pernikahan. Sehingga, kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah menemukan penganten laki laki dan penganten perempuan berdasarkan adat Jawa. 

Setelah mengikuti kegiatan upacara pernikahan adat jawa yang sudah selesai, Inilah saatnya para pemain kuda lumping bergegas untuk menampilkan pertunjukan kesenian kuda lumping. 

Sebelum penampilan kuda lumping, penanggung jawab tariaan mempersiapkan jamuan yang disediakan untuk penari. Jamuan tersebut diberi mantra yang dianggap sebagai sebuah kepercayaan  untuk mengundang roh halus. Uniknya jamuan yang disediakan ini berdasarkan mimpi yang dialami penari. 

"Penari juga didandani sedemikian rupa untuk mendukung pertunjukan agar lebih hidup. Tim Kukerta Universitas Riau turut serta dalam mendadani para penari sebelum melakukan pertunjukan," sebutnya.

Kegiatan dimulai dengan permainan musik jawa terlebih dahulu dan selanjutnya para penari kuda lumping bersama sama memasuki lapangan untuk memulai pertunjukan.

Jumlah daripada penari kuda lumping ialah enam (6) penari. Setelah musik dimainkan oleh pemain musik, para peserta mulai ikut menari sesuai dengan ketukkan dari musik yang dimainkan. Semakin cepat ketukan musik semakin membuat para penari cepat gerakan tariannya.

Dilihat dari cara bermainnya, para penari kuda lumping terlihat memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan terlihat memiliki kemampuan dunia lain. Karya tari ini memanfaatkan kuda poni palsu dari anyaman bambu. Tanda dari keahlian para pemain kuda lumping adalah adanya suara siulan (cambuk yang juga merupakan tanda awal permainan dan berlalunya kekuatan misterius yang dapat menghilangkan kesadaran daripada pemain). 

"Mengendarai kuda ponii yang terbuat dari anyaman bambu, pengelana kuda poni yang kaki bagian bawahnya terguncang mulai melompat lompat, terpental dan terguling di tanah. Atraksi tidak terhenti disitu saja, para penari mulai dirasuki oleh roh roh lain seperti memakan singkong, makan bunga bunga, makan kelapa," paparnya.

Pagelaran dibagi menjadi empat sesi. Sesi pertama menceritakan tentang prajurit kerajaan. Sesi kedua tentang kesatria. Sesi pertama dan kedua ini merupakan penampilan tarian. Memasuki sesi ketiga dan keempat adalah prosesi kesurupan dimana komunitas joyo makmur mengundang makhluk gaib sebagai puncak acara pagelaran sore itu. 

"Suasana terasa tegang ketika sesi ketiga dan keempat berlangsung, kemudian ditutup dengan sesi membersihkan diri dengan melayangkan pecut ke langit," tutupnya.


[Ikuti GagasanRiau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar